Senin, 28 November 2016

UNDERESTIMATED US UNLIMITED



Setia  bersandar  pada Tuhan

Kita hidup di dunia yang penuh dengan prasangka dan orang-orang yang suka begitu cepat mengambil kesimpulan. Melihat seorang ibu memarahi anaknya, kita langsung bilang ibu itu galak. Padahal, ibu itu  terpaksa memarahi anaknya  karena si anak bandel dan berulang kali melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya sendiri. Ketika kita  lihat seorang  naik mobil mewah,  kita langsung menganggap dia  orang kaya, bahkan “ngejudge” (= menuduh) dia pasti  sombong sok dia  nyetir dengan ngebut  en sering  bunyi klakson. Padahal, ternyata yang di belakang  kemudi itu adalah seorang sopir dan dia buru-buru karena di dalam  mobilnya ada seorang ibu yang  sedang kesakitan hendak melahirkan. Demikian juga, ketika  melihat seorang berpakaian biasa bahkan sederhana, kacamata tebal, rambut klimis, ke mana-mana Cuma naik angkot, kita pun menganggap anak itu pasti kuper, cupu, ngga asik. Padahal, siapa sangka ternyata dia  anak yang sangat cerdas, berprestasi, dan banyak dikenal berbagai kalangan. Di Sekolahnya dulu selalu  juara. Bayar uang kuliah juga tak pernah telat, karena orangtuanya  cukup berada. Kini juga dia sedang naik daun dalam bisnis retail.
Gambar terkaitNamun, antara penampilan dan kenyataan  kadang juga nggak seekstrem itu. Ada kalanya,  apa yang dipikirkan orang itu emang yang terjadi. Si A dikatain miskin dan emang dia bukan orang mampu. Si- B dikatain punya wajah jelek dan dia emang jelek walau bukan sejelek “Nyi Blo’on”. Si C dikatain kuper dan dia  emang nga punya  banyak teman. Makan sendiri, jalan sendiri dan maunya sendiri. Namun, satu hal yang harus kita tahu dan ingat adalah bahwa itu semua bukan final ! In fact, selama kita  masih bernafas di dunia ini, ngga ada yang sudah final. “The final words” hanya ada  di mulut Tuhan. Di Alkitab kita baca  gimana  pahlawan-pahlawan seperti Gideon, Daud, bahkan  para  murid  Yesus semuanya adalah orang-orang yang awalnya ngga  dianggap apa-apa. Gideon dianggap sebagai si penakut dari kelomok minoritas. Daud dianggap sebagai anak liar yang suka kluyuran di ladang-ladang. Para murid  Yesus dianggap orang-orang bodoh, miskin dan berdosa. Tapi, siapa yang menyangka semua berubah. !
Apa yang mengubah mereka? Tentu  saja  Tuhan ! Dan itulah yang  juga  bisa  terjadi pada  kita.  Percayakah kamu ? Siapapun kamu, Tuhan sanggup mengubahmu. Bukankah Alkitab juga berkata, Dia yang membuat miskin dan membuat kaya, yang merendahkan dan meninggikan juga (1 Sam. 2 : 7). Itu yang ngebedain antara janji dan pengharapan  akan masa depan orang dunia dan anak Tuhan. Anak dunia punya masa depan suram. Anak Tuhan pasti punya masa depan cemerlang.
Karena itulah, kita harus selalu mengandalkan dan bersandar kepada Tuhan. Dunia berkata, masa depan ada di tangan kita, I am the captain of my soul, the master of my fate (Aku adalah komandan atas jiwaku dan tuan atas nasibku). Tapi sebagai anak Tuhan  kita sadar bahwa Tuhanlah yang paling berkuasa atas hidup kita. Tentu ini ngggak berarti kita lalu diem-diem atau santai aja. Berjalanlah, bertindaklah, lakukan sesuatu, kejarlah cita-citamu. Tapi  tetap dalam ketaatan terhadap perintah Tuhan yang akan mengarahkan kita ke jalan yang benar.  Untuk meraih sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa dunia  berikan. Bravo ANAK – ANAK TUHAN.                                                                                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar